BIAK | KAMASAN NEWS – Dalam rangka mengimplementasikan amanat Otonomi Khusus (Otsus) Papua melalui penguatan basis intelektual daerah, Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, S.H., resmi mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Institut Cinta Tanah Air untuk periode 2026–2030.

Pengukuhan tersebut berlangsung dalam agenda strategis di BBC Kafe dan Resto, Biak, pada Sabtu (24/10/2026) malam. Peristiwa ini tidak sekadar dipandang sebagai seremonial organisasi, melainkan sebagai momentum historis yang menandai babak baru dalam peta pendidikan tinggi di wilayah tersebut.
Evolusi Institusional dan Signifikansi Historis
Dalam keterangan pers pasca-pengukuhan, Jimmy Carter menguraikan dimensi filosofis dan struktural dari keberadaan IKA. Ia menegaskan bahwa organisasi ini merupakan akumulasi dari lima angkatan alumni, yang secara simultan merefleksikan transformasi struktural institusi dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) menjadi Institut Cinta Tanah Air.
“IKA berposisi sebagai entitas integratif yang menyatukan seluruh alumni lintas generasi, sekaligus menjembatani fase transisi akademik menuju institut yang lebih komprehensif dan multidisipliner,” urainya.
Lebih lanjut, Wakil Bupati memaknai IKA bukan semata-mata sebagai asosiasi profesi, melainkan sebagai *akselerator* sinergitas tripartit yang memiliki peran strategis. Ia menekankan urgensi kolaborasi yang melibatkan alumni, civitas akademika, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya dalam satu ekosistem yang koheren.

“Sinergitas multidimensi ini merupakan prasyarat fundamental untuk menghasilkan *input* dan *output* pendidikan yang kompetitif. Orientasi utamanya adalah peningkatan kapasitas intelektual dan profesionalisme SDM OAP, sebagai wujud akuntabilitas serta dampak nyata terhadap amanat Otonomi Khusus,” tegasnya.
Intervensi Pedagogis dan Rekonstruksi Karakter Generasi Muda
Pada tataran implementasi programatik, IKA mengadopsi pendekatan intervensi pedagogis sejak usia dini sebagai agenda prioritas. Jimmy Kapissa memaparkan “grand design” yang mengintegrasikan pelajar secara langsung ke dalam atmosfer akademik kampus guna menstimulasi nalar kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan.

“Kami menerjemahkan visi ke dalam aksi empiris, bukan sekadar retorika. Pelajar akan dilibatkan ke dalam ekosistem kampus untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan imajinasi akademik. Pihak alumni akan berposisi sebagai mediator dalam rekonstruksi karakter ini,” paparnya.
Ia mengkonseptualisasikan empat pilar utama pembentukan karakter melalui program ini: urgensi untuk bertanya, keberanian berekspresi, kapasitas literasi, dan integritas intelektual dalam mempertanggungjawabkan gagasan. Selain itu, program preventif berbasis literasi kehidupan terkait bahaya narkotika dan pergaulan bebas akan diinkorporasikan sebagai bagian integral dari pendidikan karakter.
Dekonstruksi Paradigma: Pendidikan sebagai Hak Fundamental
Dalam perspektif sosiologis dan konstitusional, Wakil Bupati melakukan dekonstruksi terhadap stigma bahwa pendidikan tinggi merupakan komoditas yang elitis atau menakutkan bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa akses terhadap pendidikan harus dibuka seluas-luasnya, khususnya bagi masyarakat asli Papua.
“Pendidikan adalah hak fundamental setiap warga negara. Ketika afinitas terhadap pendidikan terbentuk, masyarakat akan secara otomatis menguasai basis pengetahuan dan beradaptasi dengan disrupsi perkembangan zaman,” ujarnya.
Pesan untuk Ekosistem Akademik Biak Numfor
Menutup keterangannya, Jimmy Carter memberikan penekanan khusus pada etos akademik di Biak Numfor. Ia menginstruksikan agar seluruh sivitas akademika mempertahankan integritas institusional dan berorientasi pada emansipasi masyarakat asli Papua, sehingga kampus bertransformasi menjadi nukleus peradaban dan pusat keunggulan intelektual di Tanah Papua.
“Kampus harus menjadi mercusuar yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan pemikir, pemimpin, dan agen perubahan bagi masa depan Papua,” pungkasnya.
–
Penulis: Tonny Marandof
Editor: Anis Rum







